Minggu, 07 Mei 2017

Naujubilah Minjalik TKW 22 Tahun Ini R3kam Pem3rk0s4an Dirinya Lalu Unggah ke YouTub3, Dip3rk0s4 5 Kali Seminggu

Naujubilah Minjalik TKW 22 Tahun Ini R3kam Pem3rk0s4an Dirinya Lalu Unggah ke YouTub3, Dip3rk0s4 5 Kali Seminggu

Baca Juga

Setiap tahun, lebih dari 100 kasus penyerangan s3ksu4l terhadap pekerja migran yang dilaporkan di Taiwan.Para pelakunya hampir selalu majikan para migran, kerabat terdekat, atau makelar penyalur kerja.

Berikut laporan wartawan BBC di Taiwan, Cindy Sui.Pada September 2016 lalu, seorang asisten rumah tangga di Taiwan merekam kejadian ketika dia dip3rk0s4 oleh majikannya yang memperkerjakannya untuk merawat sang ayah yang sudah renta.Perempuan tersebut mengaku kepada polisi bahwa dia telah diserang secara s3ksu4l berulang kali.
Dia telah mengirim rekaman video penyerangan ke makelar agar agen penyalur kerja memindahkannya ke majikan lain, namun upaya itu sia-sia. 
Dia kemudian mengirim video itu ke seorang teman, yang lalu mengunggahnya ke media sosial demi mempublikasikan aksi kejahatan tersebut.
Kasus ini sontak membuat peristiwa penyerangan s3ksu4l terhadap warga Indonesia dan pekerja migran lainnya di Taiwan menjadi sorotan.
Wartawan BBC, Cindy Sui, berupaya menghubungi perempuan yang bersangkutan melalui dinas kesejahteraan sosial Taiwan yang memberikannya tempat penampungan.
Namun, dinas itu mengingatkan Cindy Sui bahwa perempuan itu tidak patut diwawancarai karena kasusnya sedang diinvestigasi dan kondisi emosional si perempuan tengah terguncang. 
Meski demikian, seorang perempuan lain yang sedang memperjuangkan kasusnya di pengadilan sepakat angkat bicara asalkan BBC menyembunyikan identitasnya. 
Perempuan itu berusia 22 tahun ketika datang pertama kali di Taiwan untuk mendapatkan uang demi menopang keluarganya.
Namun, tak lama setelah mulai bekerja di sebuah restoran, dia mengklaim adik majikannya memp3rk0s44nya.
Pria tersebut adalah orang yang mengantarnya ke restoran setiap pagi sehingga dia bisa menyiapkan makanan sebelum staf lain dan para pelanggan datang. 
"Pertama kali dia memp3rk0s4 saya ketika satu atau dua bulan setelah saya mulai bekerja di sana," kata Ery (bukan nama sebenarnya). 
Awalnya, Ery tidak mengerti bahasa Mandarin, tidak tahu ke mana harus meminta tolong, dan bahkan dia tidak punya telepon seluler atau punya waktu untuk berteman. 
Selagi, tindak p3m3rk0s4aan berlanjut, dia tidak menceritakannya ke siapapun, termasuk ke majikan atau makelar penyalur kerja.
Seperti kebanyakan pekerja migran lainnya, dia berutang kepada makelar penyalur kerja asal Indonesia yang mencarikannya pekerjaan dan membelikannya tiket pesawat.
Ditambah bunga, utang Ery mencapai Rp 40 juta, jumlah yang baru bisa dibayar Ery setidaknya selama setahun dari menyisihkan gaji. 
Selain membayar utang ke makelar asal Indonesia, Ery juga harus membayar biaya bulanan dan pungutan liar kepada makelar Taiwan. 
Perasaan malu juga membuat Ery tidak menceritakan derita yang dia alami kepada siapapun, termasuk keluarganya.
"Budaya di kampung halaman, orang-orang berpikir perempuan yang telah dip3rk00s4a itu kotor. Saya merasa malu dan kotor. Saya khawatir orang-orang akan memandang saya dengan rendah. Saya tidak ingin bercerita kepada siapapun. Bahkan hingga kini saya tidak bercerita kepada ibu saya karena dia akan sangat sedih jika tahu," kata Ery.
Ery mengaku tiada seorang pun yang curiga dengan adik majikannya. 
"Dia berpura-pura tidak mengenal saya ketika ada orang lain di sekitar," ujarnya. 
Ery jarang berinteraksi dengan orang lain, meskipun dia bekerja di sebuah restoran yang padat pengunjung.
"Jam kerja saya sangat lama. Saya mulai bekerja pukul 06.00 untuk menyiapkan makanan bagi pengunjung dan bersih-bersih sampai pukul 22.00 atau 23.00. Pada akhir pekan, bisa lebih lama. Saya tidak bisa bicara kepada siapapun saat bekerja, majikan ingin saya terus bekerja. Selama 16 bulan saya bekerja di sana, saya hanya punya satu hari libur pada Hari Raya Imlek. Saya harus bekerja bahkan ketika saya sakit," papar Ery.
Pemerintah Taiwan tidak memastikan para pekerja migran mendapat waktu libur secara rutin atau meninjau kesejahteraan mereka.
Urusan semacam itu diserahkan kepada makelar penyalur kerja, yang hanya peduli pada kepentingan majikan.
Sejumlah kelompok pelindung hak asasi manusia mengatakan peristiwa yang menimpa Ery bukan satu-satunya kasus yang terjadi di Taiwan. 
"Mereka terlalu takut mengadu kepada polisi, utamanya karena gaji mereka dikurangi atau disimpan oleh majikan. Mereka harus membayar biaya makelar yang tinggi, harus membayar utang, dan mesti menopang keluarga. Mereka tidak bisa pulang. Mereka tidak bebas," kata Suster Wei Wei, salah seorang pegiat HAM dari organisasi Rerum Novarum Center. 
Manakala para pekerja migran melaporkan tindak kejahatan yang menimpa mereka, biasanya terlambat. 
"Biasanya (pelaporan) terjadi bukan dalam periode emas, dalam kurun 72 jam setelah peristiwa terjadi sehingga dokter masih bisa mengambil sampel sp3rma4 dari tubuh mereka. Mereka mungkin diserang pada hari Selasa, namun mereka tidak melaporkannya sampai libur hari Minggu," kata Suster Wei Wei. 
Dari 25 kasus yang ditangani organisasi tempat Suster Wei Wei bernaung, hanya tiga perempuan migran yang berhasil mendakwa p3m3rk0s4a mereka.
Kemudian, dari tiga kasus itu, hanya satu yang dihukum penjara. 
Adapun perempuan yang sepakat diberi kompensasi cepat-cepat disuruh pulang ke negara mereka.
Hukum yang berlaku di Taiwan saat ini tidak mengharuskan makelar penyalur kerja untuk melaporkan kejahatan. 
Dalam jawaban tertulis untuk pertanyaan-pertanyaan yang diajukan BBC, Biro Ketenagakerjaan dan Pelatihan Kejuruan (BEVT) dari Kementerian Tenaga Kerja Taiwan menyatakan pemerintah memiliki sistem untuk melindungi para migran.
Perlindungan hak-hak migran yang dimaksud mencakup pemberian informasi hak-hak migran sebelum mereka meninggalkan negara masing-masing dan ketika mereka tiba di bandara di Taiwan.
Akan tetapi, sejumlah LSM mengatakan sistem tersebut jelas tidak berfungsi. 
Setahun setelah bekerja di restoran, Ery membayar utang-utangnya dan kabur.
Dia kemudian menemukan dua pekerjaan lain dan bekerja secara ilegal tanpa melalui jasa makelar. 
Barulah ketika Ery memutuskan meninggalkan Taiwan dan ditanya mengapa dia meninggalkan pekerjaan pertamanya, dia mengungkap peristiwa yang dialaminya.
Seperti yang dialami para korban penyerangan s3ksu4ls lainnya, dia langsung ditempatkan di sebuah lokasi penampungan dan didampingi pengacara.
Namun, setahun kemudian, kasusnya terombang-ambing. 

(tribun-timur.com/bbc indonesia)

Related Posts

Naujubilah Minjalik TKW 22 Tahun Ini R3kam Pem3rk0s4an Dirinya Lalu Unggah ke YouTub3, Dip3rk0s4 5 Kali Seminggu
4/ 5
Oleh